Anda Pengunjung Ke
About Me
Following
Entri Populer
-
RESENSI BUKU Judul : Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010 Editor : Suyitno Ethexs Kurator ...
-
RESENSI BUKU "NYANYIAN LORONG GELAP" Kumpulan naskah teater Penulis : Bagus Mahayasa Cetakan pertama : Februari 2011 Te...
-
Embong Tekuk, Mojokerto - Dua hari yang lalu (9/11) di warung kopi Benpas, saat dalam diskusi ringan bersama rekan-rekan PVB Kota Mojoker...
-
Mungkin (sambil terisak-isak akibat patah hati) Anda akan menjawab mantap: "Wanita dong! Buktinya wanita selalu terlihat sembab, sedan...
-
Tak apa meski kau bilang aku Bodoh, aku suka itu Tak apa meski kau bilang aku Pengecut, aku suka itu Tak apa meski kau bilang aku Katrok, ak...
-
Muntamah, SH Staf Ortala Pemkot Mojokerto berlianaputri@yahoo.com Matahari belum tinggi, sinarnya mulai menghangatkan tubuh dan menghala...
-
Merokok Perlukah? Mohon maaf bagi yang nggak berkenan dengan artikel saya ini. Sekedar iseng aja (siapa tahu begitu baca artikel ini ...
-
1. Pertama Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. 2. Kedoea Kami ...
-
"Hanya mereka yang berani mengalami kegagalan besar yang akan meraih kesuksesan besar." (Robert F.Kennedy) Pribadi-pribadi yang ta...
-
Hmm, tempat ini menyimpan banyak kenangan manis untukku. Tak seharusnya aku berada disini. Karena hanya akan membawa rasa...
Label
- artikel (6)
- Berita (2)
- Cerpen (1)
- Jurnal Dre (9)
- Kiat Sukses (3)
- Pendidikan (2)
- Puisi (5)
- Resensi Buku (3)
RESENSI BUKU
Judul : Surat-Surat Orang Pulau
Penulis : Hardjono WS
Editor : Abdul Malik
Pracetak : Slamet Santoso, Dadang Ari Murtono, Saiful Bakri
Desain sampul : Amir Kiah
Perwajahan isi : Kang Madrim
ISBN : 978-979-16856-2-7
Ukuran buku : 13 X 19 cm
Tebal : viii + 156 halaman
Penerbit :
Citra Setia Universal Production
Jl.Teluk Nibung Timur IV/35
Surabaya
e-mail: iallang@yahoo.com
SINOPSIS
Seorang saksi jaman sekaligus seorang pelaku dari perjalanan sejarah bangsa, bangsa Indonesia telah memberikan sebuah catatan hariannya kepada seorang pengarang untuk ditulis dalam sebuah novel, untuk dijadikan sebagai karya sastra sekaligus bukti sejarah.
Dalam novel ini menceritakan tentang nasip warga sipil "Yuwono" harus dipaksa menjalani hidupnya di penjara, meninggalkan anak istrinya. Namun, semua itu berusaha ia ceritakan kepada anaknya "Putri" karena Yuwono merasa sangat bersalah.
Putri, anak kandungnya menyadari hal itu terlalu menyakitkan, ayahnya yang sebenarnya masih hidup, diasingkan ke Pulau Buru selama belasan tahun sebagai tahanan politik. Tak jelas salah benarnya karena tak pernah dihadapkan ke meja hijau. Hukum dan pengadilan tak pernah berbicara dalam hal ini. Sementara yang berbicara adalah kekuasaan dan kekuatan.
Peristiwa demi peristiwa yang di alami "Yuwono" ini benar-benar sungguh menyakitakan. Bagaimana ia harus dipaksa meninggalkan rumah serta istri dan anak-anaknya yang masih kecil dari penjara ke penjara, baik penjara di Pulau Jawa, Nusa Kambangan, maupun di Pulau Burung. Benarkah ia mendapatkan kebebasan setelah keluar dari penjara ke penjara saat berkumpul dengan masyarakat? Tidak, tenyata setelah Yuwono dibebaskan ia semakin merasa terasing karena oleh masyarakat dijadikan sebagai masyarakat kelas dua.
Tetapi perjuangan Yuwono tidak hanya sampai di situ, Yuwono tetap yakin bahwa semua ini adalah sebuah ujian Tuhan yang harus ia jalani. Dengan keteguhan hatinya itulah Yuwono mampu bebas dari keterasingan itu dengan karyanya.
Hardjono W.S., lahir dari pasangan R.W. Sotrisno dan Rr. Roekminiwati di Bondowoso, tanggal 11 Maret 1945 dengan nama lengkap R. Soehardjono. Ketika ayahnya sakit ia meminta izin untuk mengubah namanya dari R. Soehardjono menjadi Hardjono Wieyosoetrisno yang kemudian disingkat menjadi Hardjono W.S.
Beberapa karyanya yang dimainkan kawan-kawan senimannya, antara lain Lileo, the Kutilang Bird oleh Linda Yosephine dan Ekkes School of Ballet, Surabaya, Maret 1999; Warisan Mak Yah oleh Ludruk Karya Budaya Mojokerto dalam festival ludruk se-Jawa Timur di Gedung Utama Kompleks Balai Pemuda Surabaya.
Tiga Penghargaan telah diterimanya, masing-masing dari Lembaga Indonesia-Amerika lewat Dewan Kesenian Jakarta berupa Award khusus teater, dari Direktorat Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan di Jakarta, dan Gubernur Jawa Timur sebagai seniman kreator tahun 2000. Naskah anak-anaknya yang berjudul Layang-layang diterbitkan oleh UNESCO dalam sebuah buku berjudul Together in dramaland bersama 14 pengarang Asia-Afrika.
Sampai sekarang masih terus menulis, menggarap teater anak-anak, mematung. Saat ini sedang menekuni program Kebun Kreatif (Bonkre) yaitu belajar mendongeng, menulis, baca puisi, drama anak-anak di Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Dan tinggal bersama istri dan putra tercinta, Marwiyah Derang dan Pramudya Sang Aru Bintang.
Telah menulis 20 judul buku antara lain Celoteh Tikus dan Merpati, Pizza dan puisi, Yok Bermain Teater Yok, Sanggarku Dermagaku, Tamu dari Jati, Apa Kabar Pak Wo? Surat-surat Orang Pulau, Titik Akhir, Garis Lengkung, Rumah di persimpangan, Wayan Aku Cinta Kamu, Dua Perempuan, Rumah di Depan Langgar, Kisah Seekor Burung Kutilang, Buku Harian Seorang Perempuan, Bulik Asih, Panglima Perang, Tanah Ganjaran , Saumi, Panggil Aku Mbak, Yant, Kereta terakhir, Teater anak atau teater untuk anak-anak kecil tentang teater. Meja dan Kursi dari pangkal batang kelapa ( Trubus Agrisarana, Surabaya 1998).
Beberapa karyanya yang telah terbit dalam antologi puisi bersama, antara lain Antologi Empat Penyair bersama Jil P. Kalaran, Sabrot D Malioboro, Abdul Qodir; Omonga Apa Wae—Kumpulan puisidan geguritan, Festival Cak Durasim, 2000; Bunga Rampai Bunga Pinggiran, Antologi Puisi Parade seni WR. Soepratman 1995; Mojokero dalam puisi, Dewan Kesenian Kota Mojokerto; Memo Putih, Antologi Puisi 14 Penyair Jawa Timur.
Alamat ; Desa Jatidukuh Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto.
Email : Jatidukuh@yahoo.com
Saiful Bakri,
Biro Sastra Dewan Kesenian Kota Mojokerto.
e-mail: ipulmojokerto@gmail.com

RESENSI BUKU
"NYANYIAN LORONG GELAP"
Kumpulan naskah teater
Penulis : Bagus Mahayasa
Cetakan pertama : Februari 2011
Tebal : 111 halaman
Penerbit : Lidhie Art Forum Mojokerto
Peresensi : Abdul Malik
Disela-sela Sarasehan/dialog budaya Pendidikan dan sastra. yang diadakan Komunitas Teater Raden Wijaya Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Wijaya bekerja sama dengan Lidhie Art Forum Mojokerto, 27 Februari 2011 pukul 09.00 wib, kawan Bagus Yuwono, menyodorkan sebuah buku bersampul hitam , "Buku kumpulan naskah teater ku baru terbit."
Buku tersebut memuat dua naskah teater karya Bagus Mahayasa (nama pena Bagus Yuwono), masing-masing berjudul Nyanyian Lorong Gelap dan Sisi Gelap Kamar Yuli (Potret bayang-bayang).
Kedua naskah tersebut telah dipentaskan ke beberapa kota. Naskah Nyanyian Lorong Gelap pernah dipentaskan di halaman rumah Trombol di Jl. Merpati Gang I Probolinggo , Desember 2002 dan di Aula Kelurahan Balongsari Jl.Empunala Kota Mojokerto tanggal 24 Juli 2004.
Sementara itu naskah Sisi Gelap Kamar Yuli pernah dipentaskan keliling oleh Lidhie Art Forum Mojokerto di Lamongan, Tuban, Jember dan Blitar sepanjang April 2007.
Dokumentasi naskah teater merupakan aktifitas yang membutuhkan ketekunan, kesabaran dan biaya yang cukup besar. Perpustakaan Balai Belajar Bersama Banyumili di Kampung Kradenan menyimpan beberapa naskah teater yang berkaitan dengan Mojokerto. Antara lain naskah Pengemis Itu karya Anton de Sumartana, diterbitkan Swawedar 69 Institute & Adv. Anton de Sumartana yang kini menetap di Bogor menulis naskah setebal 16 halaman tersebut saat berusia 16 tahun dan tercatat sebagai siswa SMA Taruna Nusa Harapan (TNH) Mojokerto. "Naskah disusun saat mendengarkan pelajaran Civics Pak Kwee", tertulis di akhir naskah Pengemis Itu.
Naskah lain adalah Sangkakala Dari Timur karya Gatot "Sableng" Sumarno dari Teater Kaca Mojokerto. Meski belum pernah dipentaskan namun naskah tersebut merupakan salah satu dokumentasi berharga dari sejarah teater di Mojokerto.
Hardjono WS, penulis kelahiran 11 Maret 1945 dan tinggal nyaman di desa Jatidukuh kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto, telah menerbitkan kumpulan naskah drama anak-anak dengan judul Anak Adalah Rakyat. Seri 1 Banteng dan Buaya, seri 2 Layang-layang, seri 3 Tukang batu yang serakah. Dua naskahnya juga masuk dalam 10 pemenang Lomba Naskah Drama Pelajar Jawa Timur diselenggarakan oleh Taman Budaya Jawa Timur. Judul naskah Srikandi Edian dan Nimok, Aku Cinta Kamu. Tersedia dalam bentuk soft copy.
Buku Nyanyian Lorong Gelap secara tidak langsung melengkapi buku Dewa Mabuk yang diterbitkan Komite Teater Dewan Kesenian Jawa Timur Tahun 2010. Merupakan kumpulan naskah teater karya 8 seniman teater di Jawa Timur: Akhudiat (Surabaya), Masnoen (Bojonegoro), MS Nugroho (Mojoagung), R Giryadi (Sidoarjo), Rodli TL (Lamongan), S Jai (Surabaya), S Yoga (Ngawi), Syah A Lathief (Sumenep),
Bagus Mahayasa kelahiran Mojokerto, 9 Januari 1974 pernah memiliki satu angan-angan yaitu ingin menampilkan teater bercirikan khas Mojokerto. "Kalau teater di Malang dengan ciri khasnya gaya topeng, saya di Mojokerto yang katanya terkenal dengan batik tulisnya, dengan imajinasi dan kreatifitas ingin batik tulis ciri khas Kota Mojokerto ini kami tampilkan di panggung teater misalnya sebagai kostum pemain maupun setting panggung". (tabloid Palapa Kota Mojokerto edisi 12, November 2001).
Sukses selalu.
(Abdul Malik, bergiat di balai belajar bersama Banyumili, kampung Kradenan kota Mojokerto.e-mail: filantrophi@gmail.com)

RESENSI BUKU
Judul : Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010
Editor : Suyitno Ethexs
Kurator : Chamim Kohari-Saiful Bakri-Umi Salama
Desain cover : warung grafis indonesia
Lukisan cover : Putu Sutawijaya, Sangkring Art Space, Yogyakarta
Foto lukisan cover : oleh Wahyu Wiedy Tantra
Layout : kang madrim
Cetakan pertama : Oktober 2010
ISBN : 978-602-97907-1-9
Tebal : xx + 689 halaman
Harga : Rp 100.000,-
Penerbit:
Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto
Jl. Jayanegara 4
Kabupaten Mojokerto 61361
e-mail: dewankeseniankabmojokerto@gmail.com
CERPEN DI GAPURA CANDI WRINGIN LAWANG
Sebuah Pengantar
Sungguh, kami harus tahu diri, dan kami mencoba meyakinkan bahwa tugas kurator yang hendak diamanatkan kepada kami sebenarnya salah alamat, dan kami menyodorkan beberapa nama yang layak mengemban tugas itu, tetapi ditolak dengan alasan bahwa nama-nama yang dimaksud memang layak, tetapi dianggap tidak "steeril" dari virus-virus "Primodialisme komunitas" yang justru akan menjadi "beban" bagi niat baik diselenggarakannya "Festival Bulan Purnama Majapahit", memang selama ini jarang ada yang berani menerbitkan antologi puisi atau cerpen di luar "klik"nya.
Tugas kurator itu akhirnya tetap diamanatkan kepada kami yang "wong ndeso" yang dianggap belum terkontaminasi oleh "primordialisme komunitas" dan hirukpikuk sastra di media massa. Terus terang dengan "tergagap-gagap" kami terima amanat itu, dan betul setelah kami baca karya-karya sastra yang telah dikirim, dan kami buka lembaran-lembaran kertas yang menumpuk sekitar 7 rim, yang di dalamnya masih campur antara karya puisi dan karya cerpen, ternyata terdapat banyak nama-nama "beken" yang sudah terkenal di jagad sastra Indonesia, nyali kami menjadi semakin "mungkret", tetapi dengan kesabaran dan keberanian yang diberani-beranikan, kami terus membenamkan diri dalam kubangan cerpen-cerpen dan puisi-puisi, ternyata semakin dalam kami menyelam semakin asyik.
Membaca cerpen yang bertebaran di dalam antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, sungguh sangat mendebarkan, kami semacam menapaki "Cahaya Tajalli" yang berjajar panjang penuh pesona, kami betul-betul diajak melayari aneka pelangi warna-warni keindahan Nusantara. Dari cerpen yang paling sederhana dan pendek seperti "Aku dan dia ada di sana" karya Alfi Laila, seorang pelajar yang masih duduk di kelas VII, sampai dengan cerpen yang "sufistik" dan panjang seperti "Montel" karya Fahruddin Nasrulloh, seorang cerpenis yang karya-karyanya sudah banyak dimuat di media massa dan buku-buku kumpulan cerpen Indonesia, dimana untuk memahaminya kami harus "mengeryitkan kening" membaca berulang-ulang dengan menggunakan bashar dan bashirah (mata kepala dan mata hati) ditambah dengan menggunakan imajinasi yang rangkap, sampai-sampai muncul kekuatiran, jangan-jangan cerpen seperti itulah yang bisa menjadikan masyarakat Indonesia semakin menjauhi sastra. Pada hal Guy de Maupassant, seorang pengarang dari Perancis mengatakan bahwa "Kekuatan cerpen bukan terletak pada panjang-pendeknya cerita, tetapi bagaimana pengarang yang hanya berada dalam satu ruang terbatas mampu menyajikan suatu dunia, yang unik dan penuh dengan berbagai kemungkinan". Dalam cerpen "Montel", Fahruddin sepertinya sengaja mencoba keluar dari "tradisi" kepenulisan cerpen, atau ia sedang "bergenit-genit" atau barangkali itu hanya sebagai "strategi literer" untuk menjadikan pembaca agar terbelalak dan geleng-geleng.
Pada umumnya cerpen yang masuk dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, menggunakan ragam bahasa intimed (bahasa pergaulan sehari-hari) tetapi ada juga yang menggunakan bahasa baku seperti cerpen "Bila rindu itu datang" karya Masduri AS (Sumenep). Lain lagi dengan Anna Noor (Tangerang), cerpen karyanya yang berjudul "Kenduri Cinta" mampu menggambarkan setting dengan apik dan memasukkan unsur ekstrinsik sosio kulutural masyarakat Jawa Tengah, sehingga cerpennya lebih menarik. Termasuk cerpenis Yusri Fajar (Malang) dengan judul karyanya "Perempuan yang bercengkerama dengan anjing" juga berhasil menggambarkan setting dengan baik, sehingga mampu memindahkan pembaca dari tempatnya, seakan-akan pembaca seperti berada di Frankfurt Jerman. Khoirul Umam (Sumenep) dengan cerpen "Mayat"nya juga berhasil mengurai alur cerita sehingga asyik dinikmati, Begitu juga Mochammad Asrori (Mojokerto) dengan karyanya yang berjudul "Lalat", tema ceritanya mengarah ke aliran seni simbolis. Cerpenis Suhairi dengan karyanya yang berjudul "Penggusuran mayat" sedikit ironi, seakan-akan Indonesia itu sempit, sampai-sampai makam pun harus digusur. Wahyudi Zie dengan karyanya yang berjudul "Wanita yang dipasung di bawah pohon beringin" menyadarkan kepada kita sebenarnya yang gila itu siapa, dan masih banyak lagi cerpen-cerpen menarik lainnya.
Di saat sedang suntuk-suntuknya menikmati karya-karya itu, tiba-tiba kami teringat dengan Budi Darma, yang menyatakan "Bila seorang pengarang hanya mampu melihat obyek luarnya saja, maka itu hanya akan menjadi dongeng. Dan begitu habis pengalaman pengarang, maka habis pulalah kemampuan pengarang untuk mendongeng. Tentu saja pengarang yang baik tidak tabu mengangkat realitas harafiah ke dalam novelnya ---termasuk cerpen--- selama yang menjadi tumpuan baginya bukan fakta semata-mata. Pengarang mempunyai imajinasi dan aspirasi. Dengan imajinasinya dia dapat menciptakan realitas yang bukan harafiah, meskipun yang diangkatnya adalah realitas harafiah. Setelah menjadi novel realitas harafiah ini sudah mengalami metamorphose melalui kekuatan imajinasi pengarangnya". (Harmonium 1975 : 74). Paling tidak Budi Darma mengingatkan kepada para cerpenis agar tidak terjebak pada realitas semata, sebab hasilnya akan bisa menjadi seperti karya jurnalistik.
Dari Gapura Candi Wringin Lawang Trowulan Mojokerto, kami dan masyarakat sastra menggantungkan harapan, semoga Antologi Cerpen Festifal Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, mampu membuka pintu cakrawala sastra Indonesia, meskipun kami sadar bahwa hal itu seperti mimpi, tidak mudah dan memerlukan kerja besar dari semua pihak.
Akhirnya, dari semua naskah cerpen yang dikirimkan sebanyak 170 judul, dan hanya 94 judul cerpen yang kami anggap layak ditampilkan di Antologi Cerpen Festifal Bulan Purnama Majapahit tahun 2010 ini, dan selebihnya yang 76 cerpen yang tidak lolos kami mohon maaf.
Dengan ketulusan dan kerendahan hati, kami mohon maaf atas keterbatasan kami, kami yakin tiada gading yang tak retak, karena itu tegur sapa dan sumbang saran dari semua pihak sangat diharapkan.
Sekian. Semoga bermanfaat.
Mojokerto, 20 Oktober 2010
Kurator,
1. Chamim Kohari
2. Umi Salama
3. Saiful Bakri
