Anda Pengunjung Ke
About Me
Following
Entri Populer
-
RESENSI BUKU Judul : Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010 Editor : Suyitno Ethexs Kurator ...
-
RESENSI BUKU "NYANYIAN LORONG GELAP" Kumpulan naskah teater Penulis : Bagus Mahayasa Cetakan pertama : Februari 2011 Te...
-
Embong Tekuk, Mojokerto - Dua hari yang lalu (9/11) di warung kopi Benpas, saat dalam diskusi ringan bersama rekan-rekan PVB Kota Mojoker...
-
Mungkin (sambil terisak-isak akibat patah hati) Anda akan menjawab mantap: "Wanita dong! Buktinya wanita selalu terlihat sembab, sedan...
-
Tak apa meski kau bilang aku Bodoh, aku suka itu Tak apa meski kau bilang aku Pengecut, aku suka itu Tak apa meski kau bilang aku Katrok, ak...
-
Muntamah, SH Staf Ortala Pemkot Mojokerto berlianaputri@yahoo.com Matahari belum tinggi, sinarnya mulai menghangatkan tubuh dan menghala...
-
Merokok Perlukah? Mohon maaf bagi yang nggak berkenan dengan artikel saya ini. Sekedar iseng aja (siapa tahu begitu baca artikel ini ...
-
1. Pertama Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. 2. Kedoea Kami ...
-
"Hanya mereka yang berani mengalami kegagalan besar yang akan meraih kesuksesan besar." (Robert F.Kennedy) Pribadi-pribadi yang ta...
-
Hmm, tempat ini menyimpan banyak kenangan manis untukku. Tak seharusnya aku berada disini. Karena hanya akan membawa rasa...
Label
- artikel (6)
- Berita (2)
- Cerpen (1)
- Jurnal Dre (9)
- Kiat Sukses (3)
- Pendidikan (2)
- Puisi (5)
- Resensi Buku (3)
Ramadhan dan
Optimisme Indonesia
DENNY INDRAYAN A
Staf khusus kepresidenan bidang hukum
Ramadan selalu menjadi bulan yang spesial bagi saya. Sebab, bulan mulia ini membuat saya teringat ketika masih kuliah di Jogjakarta. Saya dan teman-teman sesama mahasiswa biasa menghabiskan waktu menunggu berbuka puasa, dengan berdiskusi. Tapi situasinya sekarang jelas berbeda. Saya tidak lagi dalam suasana kenikmatan mencari ilmu seperti dulu. Ramadan tahun-tahun belakangan ini lebih pada suasana tantangan kerja yang terus meningkat. Bayangkan, beberapa waktu lalu saya sampai tidak tidur hingga sahur untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor.
Ramadan juga selalu menjadi energi bagi saya. Apalagi, tahun ini merupakan ramadan pertama saya setelah beribadah haji. Ada perasaan lebih berhati-hati untuk menjaga diri dan lebih bertanggung jawab.
Saya tidak setuju jika orang memanfaatkan ramadan hanya untuk bermalas-malasan. bahkan, di bulan ramadan-lah saya bisa merampung kan buku ke lima saya. Judulnya, Indonesia Optimis dengan tebal 250 halaman. Insya Allah, tepat tanggal 17 Agustus buku saya itu akan terbit.
Buku itu sebenarnya ditulis sejak dua minggu sebelum ramadan. Saya awalnya memprediksi buku tersebut selesai September atau Oktober. Saya sendiri kaget. Ternyata justru di bulan ramadan bisa cepat rampung. Alhamdulillah.
Rupanya, banyak momen di bulan ramadan yang bisa kita manfaatkan untuk meningkatkan produktivitas. Misalnya, sehabis sahur, setelah salat tarawih, atau sambil menunggu adzan. Saya biasanya memanfaatkan waktu-waktu itu untuk menulis. Tak terasa sekarang sudah selesai 250 halaman.
Buku tersebut mengusung semangat positif ramadan sekaligus HUT kemerdekaan. Dalam buku tersebut, saya agak melawan arus persepsi banyak orang. Umumnya orang menganggap banyaknya kasus korupsi yang terungkap menunjukkan bahwa negara semakin buruk. Pemerintahan tidak efektif. Masyarakat pesimistis. Saya tidak sepakat. Bukan begitu seharusnya kita memandang.
Saya melihat sebaliknya. Justru semakin banyak kasus korupsi yang di ungkap menunjukkan bahwa pemberantasan korupsi terus berjalan. Memang, pesimisme itu bisa jadi disebabkan media yang cenderung memberitakan kasus-kasus korupsi walaupun itu tidak salah. Kita mungkin terlalu berfokus terhadap pemberitaan kasus korupsi.
Dalam buku itu, saya mengajak kita semua melihat Indonesia secara optimis. Orang melihat kesan presiden tersangkut kasus korupsi. Saya melihat sebaliknya. Dulu keluarga presiden apa bisa diseret kepengadilan? Barangkali, dulu korupsi sudah ada, tapi penegak hukum tak pernah bisa menyentuhnya.
Saat ini kekuasaan presiden dibatasi oleh banyak peraturan. Meski demikian, banyak capaian yang bisa kita rasakan, baik di bidang ekonomi maupun bidang hukum. Karena itu, salah kalau orang bilang pemerintahan tidak efektif.
Ramadan mesti kita maksimalkan sebagai waktu yang tepat untuk berbagi optimisme terhadap bangsa dan negara kita. Saya bersyukur bisa berbagi perspektif positif ini. memang, saat ini saya melihatnya dari pusat pemerintahan, sedangkan dulu saya melihat dari luar. Saat masih berada di luar, informasi yang saya miliki terbatas. Sekarang informasi dari dalam itu lebih mewarnai persepktif saya.(aga/c4/ttg)
Muntamah, SH
Staf Ortala Pemkot Mojokerto
berlianaputri@yahoo.com
Matahari belum tinggi, sinarnya mulai menghangatkan tubuh dan menghalau kabut di sepanjang jalan Benteng Pancasila, Mojokerto. Orang memadati jalanan kembar ini, menghirup udara segar sambil joging. Setiap minggu pagi, jalan tertutup bagi semua jenis kendaraan dan area parkir dialihkan di ujung jalan depan Kantor KPU, sedang kendaraan dari arah berlawanan parkir di jalanan dekat rumah wali kota.
Lelah berjalan, warga bisa istirahat sembari menikmati jajanan atau makanan tradisional yang banyak dijajakan di sana. Semua tergantung selera, mau makan nasi atau jajanan karena di sini serba ada. Bahkan ada yang menjajakan mainan anak-anak. Kami makan sambil duduk di lesehan di sisi jalan sebelah utara, menghadap sawah yang terbentang hijau. Di depan ada sungai yang airnya masih bersih. Saat kereta api melintas di sisi selatan jalan, anak-anak berteriak kegirangan. Kereta melintas pelan karena sebentar lagi akan masuk stasiun Mojokerto.
Aktivitas minggu pagi di sepanjang jalan Benteng Pancasila, Kota Mojokerto. Ada gairah baru berkembangnya ekonomi rakyat di sepanjang jalan mewah sejauh satu kilometer itu. Perpaduan antara rekreasi, olah raga, dan pengembangan ekonomi rakyat. Dulu jalan ini sempit dan sepi. Orang akan berpikir panjang untuk melewatinya saat malam hari karena di kiri kanan jalan adalah area sawah. Kini, jalan menjelma menjadi jalan besar layaknya di kota metropolitan. Ramai di siang hari, menjadi sarana nongkrong mencari angin di malam hari. Muda-mudi menikmati romantika di sini. Khusus di Minggu pagi ada wisata kilat berbasis ekonomi rakyat.
Pengembangan sektor riil menjadi komitmen di kota onde-onde ini. Bahkan, sektor ini tergolong dimanja oleh pemkot Mojokerto. Nampaknya, pemerintah sadar peran penting sektor ini dalam mengatasi kemiskinan dan pengangguran. Sektor riil juga mendapat fasilitas di Pasar Kliwon di pusat perbelanjaan jalan Majapahit dan Pasar Tanjung dekat Klenteng. Pasar Burung, yang dulu menempati ruang sempit di jalan Karyawan, kini dipindah di area yang lebih luas, di jalan Empu Nala. Di alun-alun kota, pedagang kaki lima (PKL) juga mendapat kesempatan meraup untung. Kota lain mungkin perlu belajar dari hubungan damai antara pemkot dan PKL sebagai penggerak ekonomi rakyat yang patut untuk dibina dan diberikan fasilitas.
Sumber : http://www.surya.co.id/2011/07/12/minggu-pagi-di-benteng-pancasila-mojokerto
