Anda Pengunjung Ke
About Me
Following
Entri Populer
-
RESENSI BUKU Judul : Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010 Editor : Suyitno Ethexs Kurator ...
-
RESENSI BUKU "NYANYIAN LORONG GELAP" Kumpulan naskah teater Penulis : Bagus Mahayasa Cetakan pertama : Februari 2011 Te...
-
Embong Tekuk, Mojokerto - Dua hari yang lalu (9/11) di warung kopi Benpas, saat dalam diskusi ringan bersama rekan-rekan PVB Kota Mojoker...
-
Mungkin (sambil terisak-isak akibat patah hati) Anda akan menjawab mantap: "Wanita dong! Buktinya wanita selalu terlihat sembab, sedan...
-
Tak apa meski kau bilang aku Bodoh, aku suka itu Tak apa meski kau bilang aku Pengecut, aku suka itu Tak apa meski kau bilang aku Katrok, ak...
-
Muntamah, SH Staf Ortala Pemkot Mojokerto berlianaputri@yahoo.com Matahari belum tinggi, sinarnya mulai menghangatkan tubuh dan menghala...
-
Merokok Perlukah? Mohon maaf bagi yang nggak berkenan dengan artikel saya ini. Sekedar iseng aja (siapa tahu begitu baca artikel ini ...
-
1. Pertama Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. 2. Kedoea Kami ...
-
"Hanya mereka yang berani mengalami kegagalan besar yang akan meraih kesuksesan besar." (Robert F.Kennedy) Pribadi-pribadi yang ta...
-
Hmm, tempat ini menyimpan banyak kenangan manis untukku. Tak seharusnya aku berada disini. Karena hanya akan membawa rasa...
Label
- artikel (6)
- Berita (2)
- Cerpen (1)
- Jurnal Dre (9)
- Kiat Sukses (3)
- Pendidikan (2)
- Puisi (5)
- Resensi Buku (3)
Sumber : Story Teenlit Magazine Edisi 30 / Th.III / 25 Januari 2012 - 24 Februari 2012
Kasih....
Apa kau tahu perasaan ini?
Perasaan yang selalu mengganggu pikiranku
Perasaan tentang kamu
Perasaan yang hanya aku rasa
Setiap detik, setiap menit
Bayangmu selalu menghantui hari-hariku
Setiap desiran aliran darahku
Setiap helaian nafas ini kau selalu datang
kau penuhi semua isi otakku
Perasaan ini tak dapat berpaling darimu
Tak akan, tak akan bisa hilang meski tak kau balas
Biarkan rasa ini tumbuh dan berkembang di hatiku
Meski tak ada siraman air cinta darimu
SURAT CINTA
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !
Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !
Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan.
Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu :
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain ……
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.
Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit :
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.
Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !
Sajak Pertemuan Mahasiswa
matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan
lalu kini ia dua penggalah tingginya
dan ia menjadi saksi kita berkumpul disini
memeriksa keadaan
kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata : "kami ada maksud baik"
dan kita bertanya : "maksud baik untuk siapa ?"
ya !
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata, ada yang terluka
ada yang duduk, ada yang diduduki
ada yang berlimpah, ada yang terkuras
dan kita disini bertanya :
"maksud baik saudara untuk siapa ?
saudara berdiri di pihak yang mana ?"
kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah - tanah di gunung telah dimiliki orang - orang kota
perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat - alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya
tentu, kita bertanya :
"lantas maksud baik saudara untuk siapa ?"
sekarang matahari semakin tinggi
lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
ilmu - ilmu diajarkan disini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan ?
sebentar lagi matahari akan tenggelam
malam akan tiba
cicak - cicak berbunyi di tembok
dan rembulan berlayar
tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
akan hidup di dalam mimpi
akan tumbuh di kebon belakang
dan esok hari
matahari akan terbit kembali
sementara hari baru menjelma
pertanyaan - pertanyaan kita menjadi hutan
atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra
di bawah matahari ini kita bertanya :
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis, ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !
RENDRA
( jakarta, 1 desember 1977 )
PENULISAN PUISI
Setiap hari kita beraktivitas. Mulai bangun tidur sampai tidur kembali di malam hari. Saat matahari mulai tenggelam beertaburan bintang di langit beserta bulan yang cahayanya memantul dari sungai, sawah, atau bukit-bukit kecil di sekitar kita yang semuanya akan terasa indah.
Bila pagi hari kabut tipis di depan rumah menari-nari, kupu-kupu beraneka warna hinggap dari bunga ke bunga lainnya, suara burung bersahutan dari pohon jambu terbang ke pohon rambutan berkicau bersahutan menyambut pagi. Gemericik air kali menciptakan nyanyian, alangkah kaya hidup ini damai bersama alam di sekitar kita. Itu semua puisi dalam kehidupan kita sehari-hari. Tinggal bagaimana daya kreatif kita untuk mengolahnya. Pertanyaannya sekarang: Mau kita apakah keindahan alam di negeri ini? Kita biarkan lewat atau berlalu begitu
saja. Tentu tidak jawabnya. Disini mari kita mendokumentasikan seluruh kehidupan di negeri kita dengan puisi.
Bagaimana caranya?
1. Mengerti apa itu puisi
Puisi, cerpen, novel, prosa atau bentuk tulisan yang lain merupakan karya sastra.Karya sastra adalah karangan atau tulisan yang mengungkapkan pengalaman hidup kita sehari-hari dipadu dengan daya khayal (imajinasi ) lalu dikemas dengan bahasa yang indah. Puisi merupakan media ekspresi yang tidak asing bagi kita karena setiap hari kita akan bertemu dengan segala macam peristiwa yang akan menjadikan pengalaman dan setiap orang pasti mempunyai pengalaman pribadi masing-masing baik itu sedih, susah, senang, gembira ataupun duka
sekalipun.
Contoh:
Lagu Naik-naik ke puncak gunung, Balonku ada lima atau Bintang kecil. Sungguh kita sedang berpuisi karena semua itu pada dasarnya adalah sebuah puisi jadi jangan takut untuk menuliskannya.
2. Menjadikan hidup lebih hidup dengan puisi
Sawah yang terbentang, air sungai yang mengalir, bukit yang hijau, panorama alam yang mempesona di sekitar kita, itu semua diberikan Tuhan kepada kita. Dengan puisi kita akan merasakan rasa syukur itu agar kita tidak menyia-nyiakan atau merusak alam yang indah ini.Puisi akan menyapa kita dengan indah. Tulisan-tulisan kita akan mewarnai hidup ini akan lebih kaya. Kaya akan perasaan, kaya akan pikiran, kaya akan pengalaman, kaya akan wawasan, meskipun dari hal-hal sederhana yang kita alami.
Contoh puisi:
Pak Tani
Pagi yang cerah
Pak tani sudah berangkat ke sawah
Di pundak
Cangkul selalu terbawa
Menemani untuk menggemburkan sawah
Kau tak lelah
Merawat padi hingga menguning
Mengusir burung-burung
Yang hinggap di batang-batang padi
Sampai musim panen
Yang akan segera tiba
3.Mengekspresikan uneg-uneg lewat puisi
Dalam perjalanan berangkat atau pulang sekolah, di rumah atau sedang bermain, akan muncul ide-ide yang cemerlang. Gagasan-gagasan yang menarik dalam perjalanan.Dengan puisi kita tulis
atau gagasan-gagasan dalam hati kita, dalam pikiran-pikiran kita. Dimana gagasan-gagasan itu bisa berupa keprihatinan, saran-saran atau menyadarkan orang lain untuk tidak merusak alam.
Contoh:
Tragedi banyu panas
Desember beberapa tahun lalu
Air bah bercampur Lumpur
Datang dengan tiba-tiba
Dari atas bukit
Batu-batu menggelinding
Menimbun kolam
Padusan banyu panas
Airnya menjadi coklat
Gelak tawa anak-anak dan orang dewasa
Berubah menjadi tangisan
Bencana itu datang
Karena hutanku telah habis ditebang
Oleh orang-orang yang mementingkan dirinya sendiri
Tuan lindungilah hutan kami
Tuan jangan kau rusak bukit kami
Tuan jangan biarkan tuhan murka untuk yang kedua kali
4.Menulis puisi dalam buku harian
Dengan buku harian kita akan merekam peristiwa-peristiwa yang terjadi
Dari waktu ke waktu
Dari hari ke hari
Dari bulan ke bulan
Dan dari tahun ke tahun
Secara berurutan.
Dari buku harian yang kita tulis kita akan belajar jujur pada diri sendiri, tidak dibuat-buat semua berjalan apa adanya. Apa yang kita lihat dan kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari semua kita tulis dengan wajar dan seutuhnya adalah pengalaman kita sendiri mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari, 24 jam kita bermain dengan peristiwa yang terjadi. Yakinlah bahwa semua peristiwa apapaun bentuknya pasti ada hikmahnya.Buku harian sangat kecil dan sederhana tetapi begitu besar manfaatnya untuk mencurahkan segala isi hati kita dengan puisi.Kenapa dengan puisi? Karena dengan puisi pengalaman yang kita curahkan akan terasa lebih mendalam, perasaan kita akan lebihhalus dan peka terhadap sesuatu di sekitar kita.
Dengan buku harian tekanan-tekanan yang ada di hati kita kita lepaskan seperti air yang mengalir deras. Air yang meghanyutkan sampah-sampah, menggelindingkan batu-batu dan jangan biarkan air tersumbat, begitu juga dengan perasaan dan hati kita. Dalam buku harian kita tulis semua hal-hal pribadi yang menyesakkan dada kita.
Contoh:
Ibu
Ibu,
Hatimu lembut
Bagai sutera bidadari
Mengelus dan memanjakan aku
Bila dingin malam mulai datang
Kau dekap aku
Kau cium aku
Penuh rasa hangat menyelimutiku
Ibu, maafkan aku
Yang kadang tak menurut padamu
Kau akan menjadi pelita
Selamanya dalam hidupku
Semoga dengan pengalaman batin dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta ini kita tidak hanya mampu merasakan saja tapi keberanian kita untuk menerjemahkan pikiran-pikiran, menerjemahkan sedih kita, menerjemahkan kegembiraan kita dan menerjemahkan kegelisahan kita, lebih-lebih menerjemahkan hati nurani kita atas semua anugerah yangterhampar di depan mata kita dengan jujur, apa adanya dan sepenuh hati lewat puisi dimana saja dan kapan saja sebab dengan puisi kita akan belajar bersama-sama menjadi orang yang arif dan bijaksana, berhati lembut penuh perasaan dan belajar menghagai sesama manusia dengan kasih sayang serta mensyukuri segala nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita semua.
Selamat menulis puisi.
Kampung Jagalan, 2 Maret 2010
*Saiful Bakri, anggota Biro Sastra Dewan Kesenian Kota Mojokerto.
e-mail: ipulmojokerto@gmail.com

Tak apa meski kau bilang aku Bodoh, aku suka itu
Tak apa meski kau bilang aku Pengecut, aku suka itu
Tak apa meski kau bilang aku Katrok, aku suka itu
Tak apa meski kau bilang aku Gak Gaul, aku suka itu
Apapun menurutmu itu tentang diriku, aku suka
Itu artinya kau perhatikan aku, aku suka itu
Yah.. inilah kebodohanku yang sesungguhnya
